Kiat Praktis Menjaga Keutuhan Pernikahan Anda (II)

Solution Tips
§ Bangunlah pondasi yang kuat.

 Sama seperti mendirikan sebuah bangunan, untuk menghasilkan bangunan yang kuat dan kokoh harus dimulai dengan membangun pondasi yang kuat dan kokoh. Para arsitek tentu merencanakan dan menghitung konstruksinya dengan baik serta mencoba mengantisipasi risiko terburuk yang akan dihadapi bangunan tersebut. Dengan demikian bangunan tersebut dapat tetap kokoh berdiri meskipun suatu waktu terjadi badai.
Banyak orang berpendapat, pondasi dalam sebuah pernikahan adalah CINTA dan kebanyakan orang menikah karena mereka saling mencintai, merasa ada kecocokan dan saling membutuhkan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah cinta seperti apakah yang akan menentukan keberhasilan sebuah pernikahan? Apakah cinta yang tulus atau karena hawa nafsu (eros)? Atau, karena harta atau kedudukan?
Cinta yang tepat adalah yang berdasarkan prinsip “Love is Giving the Best” (cinta adalah memberi yang terbaik). Dengan memiliki pandangan demikian maka kecenderungan menuntut yang ada dalam diri kita dapat dengan lebih mudah dinetralisir. Kecenderungan alami kita yang selalu ingin bertanya “apa yang dapat pasangan kita berikan kepada kita” berubah menjadi pemikiran “apa yang dapat kita berikan untuk membahagiakan pasangan kita”. Berikan waktu, perhatian terbaik dan kata-kata yang menguatkan maka cinta yang kita berikan akan tumbuh subur dan ini menjadi dasar atau pondasi pernikahan yang kokoh karena barangsiapa yang memberi akan mendapatkan yang terbaik.

§ Pilar komunikasi dengan saling mengerti.

Setelah memiliki pondasi yang kuat, kita harus membangun pilar-pilar penunjang yang kokoh untuk mempertahankan pernikahan tersebut yaitu KOMUNIKASI yang baik karena tanpa komunikasi yang baik, kerikil-kerikil masalah dapat melahirkan badai yang mampu mengguncangkan pernikahan yang ada.
Untuk membangun komunikasi yang baik, pasangan harus menyadari bahwa mereka merupakan dua pribadi yang unik dan berbeda. Perbedaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jenis kelamin, tetapi juga nilai-nilai, kebiasaan, temperamen dan kepribadian. Pasangan tidak akan pernah bisa membangun sebuah kesamaan tanpa menyadari atau mengenali perbedaan yang ada. Setelah pasangan menyadari perbedaan tersebut barulah dapat ditentukan langkah penyesuaian yang tepat. Tentunya, kita tidak dapat menuntut pasangan untuk mengubah/menyesuaikan dirinya, namun mulailah dari diri kita.

§ Satu atap dalam keuangan.

Masalah ekonomi atau keuangan bukanlah hal yang mudah diselesaikan dalam sebuah pernikahan, hal ini sangat tergantung pada budaya dan nilai-nilai dalam keluarga masing-masing pihak. Namun dengan prinsip “di mana hartamu, di situ hatimu” maka satu atap dalam keuangan akan sangat menjanjikan sebuah perlindungan yang baik untuk sebuah pernikahan. Tentunya dengan adanya satu kesatuan dalam keuangan akan memperkecil keinginan untuk bercerai pada suami-istri karena mereka harus memikirkan dua kali lebih panjang untuk mampu memisahkan harta ‘gono-gininya’ ketika mereka berkeinginan untuk bercerai._____Tokoh 477

Iklan

Kiat Praktis untuk Keutuhan Pernikahan Anda

 

Pernikahan merupakan salah satu “tugas dan kewajiban’’ orang dewasa dan menjadi bagian rencana kehidupan kebanyakan orang. Orang yang berkeputusan menikah memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan menginginkan pernikahan yang bahagia dan langgeng seumur hidup.
Namun, kehidupan dalam pernikahan tidaklah selalu seindah seperti yang diharapkan oleh pasangan yang akan menikah. Tidaklah mudah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Konflik mudah terjadi dan jika hal itu tak mampu diatasi dengan bijaksana maka konflik tersebut akan membawa pernikahan pada perceraian.
Karenanya, sangat penting bagi para pasangan yang akan menikah untuk mempersiapkan pernikahannya dengan baik sehingga dapat mengantisipasi badai yang akan menerpa pernikahan mereka. M

uncul pertanyaan di dalam benak kita semua, bagaimana kita harus membangun pernikahan tersebut?

 

Akibat yang terjadi jika suatu pernikahan tidak disiapkan dengan baik:

Rentan terhadap konflik

Sebuah pernikahan yang tidak memiliki pondasi dan pilar-pilar penunjang yang kuat akan mengakibatkan perbedaan antara mereka justru menjadi sumber konflik dalam pernikahannya. Misalnya, perbedaan temperamen dan kepribadian antar-suami- istri. Suami yang bertemperamen intim dengan istri yang bertemperamen cermat, perbedaan dalam cara mereka mengambil keputusan (suami impulsif, sedangkan istri penuh dengan pertimbangan) akan menimbulkan konflik dan biasanya masalah kecil seperti ini dapat menjadi besar dan tidak terselesaikan dengan baik.

 

Ketidakpuasan dalam pernikahan


Jika konflik yang ada tidak terselesaikan maka masing-masing pihak merasa bahwa diri mereka dirugikan dan timbul rasa tidak puas terhadap pasangan masing-masing. Atau, karena hambatan komunikasi dan tidak adanya saling pengertian antara suami dan istri, maka mereka merasa pasangannya tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan merasa kecewa dengan pernikahan yang ada.

Perselingkuhan
Jika suami atau istri merasakan ketidakpuasan atau kecewa dengan pernikahannya maka perselingkuhan pun tak dapat dihindarkan lagi. Masing-masing mencoba mencari orang lain yang menurut mereka dapat lebih memenuhi kebutuhannya.

Perceraian
Hal ini seringkali ditempuh oleh banyak pasangan yang merasa bahwa pernikahannya tidaklah sesuai dengan harapannya. Tali komitmen pun diputuskan dan kesakralan pernikahan tidak lagi dipedulikan demi terlepas dari pernikahan yang penuh masalah tersebut.

Hambatan yang sering terjadi
§

Pemahaman yang tidak tepat tentang konsep pernikahan atau pernikahan tidak dibangun di atas pondasi yang kuat. Banyak orang yang menikah dengan pemahaman yang tidak tepat tentang konsep pernikahan. Mereka berpikir, dengan menikah akan ada orang yang peduli dan memperhatikan kebutuhannya, yang selalu ada saat ia membutuhkan. Pandangan lain, dengan menikah mereka dapat memenuhi kebutuhan seks tanpa berbuat dosa. Mereka kurang mempertimbangkan mengenai masalah yang mungkin muncul dalam pernikahan sehingga ketika masalah tersebut muncul, timbullah kekecewaan baik kepada pasangan maupun pernikahan itu sendiri.

§ Kurangnya komunikasi dan saling pengertian. Hal ini dikarenakan pasangan yang tidak memahami perbedaan individual yang ada di antara mereka. Mereka mungkin menyadari bahwa mereka berbeda namun tidak tahu bagaimana cara menjembatani perbedaan yang ada dengan bijaksana sehingga konflik pun tak bisa dihindarkan lagi. Seringkali hal ini dianggap sebagai hal yang biasa oleh banyak pasangan dan dengan berharap bahwa pasangannya dapat berubah ketika mereka menikah, hubungan pun dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun, justru kebanyakan orang mengeluhkan komunikasi dan hubungan mereka makin memburuk dan penyesalan pun muncul dalam diri masing-masing setelah mereka menikah._________Tokoh 476

Halo dunia!

Mengelola Keuangan Baru

MENIKAH adalah bersatunya dua manusia yang membentuk keluarga baru. Banyak hal penting yang harus dikendalikan secara bersama. Salah satunya adalah mengelola keuangan dengan benar.
Selamat datang di dunia pernikahan, sebuah dunia di mana sebagian besar pengaturan hidup tidak lagi hanya bertumpu pada diri Anda, melainkan juga keluarga baru yang Anda cintai. Satu dari banyak perubahan pengaturan ini termasuk juga adalah pengaturan keuangan keluarga. Sebagai seseorang yang telah menikah, pasti lebih banyak pertimbangan dalam pengelolaan keuangan di banding ketika masih lajang. Baca lebih lanjut